tulisan asli ada di
http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/21/pandangan-anies-baswedan-terhadap-mahasiswa-indonesia/
Siapa yang tak mengenal sosok alumni sekaligus tokoh pemuda Nasional
yang sekarang menjadi Rektor Universitas Paramadina ini? Yah, semua
orang pasti sudah mengenalnya. Anies Baswedan Ph.D. Ayah 4 anak ini
lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969. Beliau lulus dari Fakultas
Ekonomi UGM pada tahun 1995. Beliau melanjutkan pendidikan master di
University of Maryland. Lulus sebagai master, ia mendapatkan beasiswa
dari Northern Illinois University untuk program doktoral. Pada tanggal
15 Mei 2007 beliau dilantik menjadi rektor Universitas Paramadina,
sekaligus memcahkan rekor sebagai rektor termuda di Indonesia pada
tahun itu.( 38 tahun).
Pada tahun 2005, Anies Baswedan menjadi direktur riset pada The
Indonesian Institute. Kemudian pada 2008, ia mendapat anugerah sebagai
100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah
Foreign Policy
dari Amerika Serikat, berada pada jajaran nama-nama tokoh dunia antara
lain tokoh perdamaian, Noam Chomsky, para penerima penghargaan Nobel,
seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen.Kemudian,
pada April 2010, Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh
yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah
Foresight
yang terbit di Jepang akhir April 2010.Majalah bulanan berbahasa Jepang
itu menilai bahwa Anies adalah tokoh yang merupakan salah satu calon
pemimpin Indonesia di masa mendatang.
Disela-sela kesibukannya yang padat, Sabtu, 16 April yang lalu penulis
mendapatkan kesempatan langsung untuk mewawancarai beliau dikediaman
keluarganya di Jogjakarta, di Jalan Kaliurang. Penulis melakukan tanya
jawab, meminta pandangan beliau terkait mahasiswa, organisasi,
pergerakan mahasiswa dan kepemimpinan. Berikut cuplikan wawancaranya
dengan rektor yang minta dipanggil Mas Anies ini :
Menurut Mas Anies, Mahasiswa yang aktif berorganisasi itu baik atau tidak?
Masa mahasiswa adalah masa belajar di fase terakhir dari struktur
pendidikan formal di Indonesia, bila Anda sudah sampai mahasiswa Anda
pasti sudah SMA dan seterusnya, jadi ini fase terakhir. Kenapa saya
sebut demikian? Karena sesudah itu maka Anda akan berada di
crossing road,
apakah Anda meneruskan ke jalur non -akademik atau akademik. Bila Anda
meneruskan ke jalur non-akademik mungkin Anda bisa bekerja diwilayah
Anda masing-masing dan disitu mungkin Anda bisa meneruskan satu
degree
lagi, namanya master, master yang sifatnya professional untuk menopang
keprofesian Anda. Misalnya Anda mengambil master bisnis atau mengambil
master ilmu-ilmu terapan lain. Jika Anda masuk ke jalur akademik,
karena namanya universitas maka Anda akan meneruskan ke jenjang
master, menjadi Doctor lalu menjadi peneliti dan menjadi
Scholar.
Namun ini fase terakhir, untuk menjawab pertanyaan Anda, saya berikan
outlinenya dulu nih.Jadi pertanyaannya kemudian ketika Anda melewati
fase kuliah ini, Anda akan menjadi orang-orang ” bekerja” tidak lagi
belajar. Bekerja itu diperlukan kemampuan bukan sekedar prestasi
akademik tapi dibutuhkan pengalaman, keterampilan untuk bisa memimpin,
mengelola, bernegoisasi. Pengalaman berorganiasi selama kuliah, itu
merupakan modal untuk bisa meniti karir kedepan dengan baik. Oleh
karena itu saya sangat mendukung dan menurut saya sangat penting bagi
anak-anak yang sedang kuliah untuk mengembangkan diri lewat organisasi.
Jadi, saya selalu mengatakan, aktif dikampus, itu sebenrarnya sebuah
kewajiban secara moral, secara hukum mengatakan itu tidak. Tapi Anda
sebagai mahasiswa itu wajib. Kalau Anda tidak mengembangkan diri lewat
organisasi sekarang, sesudah Anda lulus atau memulai berkarir saat itu
Anda menyesal, kenapa dulu tidak aktif? Kenapa dulu tidak mengembangkan
kepemimpinan? Dari pada Anda menyesal nanti, kerjakan, jadilah
aktivis, tapi aktivis itu bukan demonstran, beda!
Lalu dengan begitu pentingnya aktif berorganisasi itu maka
apakah ada porsi yang pas antara belajar dengan berorganisasi, 50-50
kah porsinya? Atau kita harus tetap mendahulukan kuliah dulu?
Anda sebagai mahasiswa apa sih kewajiban mahasiswa ini? Kuliah, bukan?
Itu bukan dinomorsatukan atau tidak, itu sesuatu yang harus dikerjakan
jadi jangan katakan itu terpisahkan . Itu sudah hal yang harus
dikerjakan. Jadi, Demikian juga dengan aktivisme, proporsinya akan
tergantung penyesuaian pada suasanannya. Seperti Anda tanyakan seperti
saya” Mas anis, ingin menjadi suami atau ingin menjadi bapak?” Gimana
dong? Itu tidak bisa terpisahkan, dalam diri saya ini banyak menempel
beberapa tugas, Anies sebagai anak, ayah, rektor, pengurus Fullbright
dan Anies sebagai penggagas gerakan Indonesia Mengajar. Saya tidak bisa
kemudian mengatakan “Mau yang mana? ” Semuanya harus dijalankan. Ada
waktunya pada saat saya disini mengerjakan A B C D, itu yang saya harus
bereskan dengan baik, saat saya di Jakarta dengan keluarga itu yang
harus saya lunasi dengan baik. Jadi kebiasaan untuk memiliki
multiple role
tidak bisa dimulai saat Anda sudah lulus nanti tapi biasakan sekarang.
Saat Anda tidak terbiasa dengan multiple role Anda akan selalu
berpikirnya ini atau ini, ini atau ini, Anda harus bisa mengerjakan
semuanya. Anda pernah melihat pemain
juggler? Bisa tidak seorang
juggler
itu berkonsentrasi hanya satu bola saja? Ada masanya Anda mainkan satu
bola terus kan? Ada masanya semuanya harus dikerjakan ada yang bisa 3
bola, 5 bola atau 10 bola.
The more you practice managing multiple role the more experience you have dan Anda bisa mengerjakan itu tanpa harus melihat lagi
Banyak orang berkata bahwa masalah
yang melanda mahasiswa sekarang adalah krisis kepemimpinan dari
mahasiswa sendiri dan juga krisis kepedulian. Tak sedikit ada juga
beberapa pihak mengatakan buat apa berorganisasi?Kalau Mas anies sendiri
bagaimana melihatnya?
Seingat saya, dijaman saya juga begitu. Stop complain terhadap
mereka-mereka yang tidak mau aktif. Lakukan kegiatan, lakukan sesuatu
jika yang dikerjakan itu menarik yang bisa membuat mereka bergabung.
Jangan pidatoi mereka dan jangan sebut mereka apatis.Bertindak demikian
merupakan rumus untuk membuat mereka semakin jauh dari Anda. Kami
dulu mengalami hal serupa, bukan hal yang baru. Ketika dulu semasa saya
kuliah, ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan
berdasarkan pilihan kegiatan. Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa
hedonis- konsumtif, jaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka
pergi kuliah naik mobil dijaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya
baru bisa naik motor , sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus. Yang
kedua adalah mahasiswa profesional - individualis, kerjaannya kuliah
saja tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan,
professional tapi individualis.Ketiga, mahasiswa kita istilahkannya
asketis religius, asketis religius ini dipikirannya hanya agama saja.
Keempat adalah mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini.
Kelima, mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya
sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita
bisa lihat dari gaya baju, rambut dll. Selanjutnya ada mahasiswa yang
kecendrungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah
melakukan kajian secara mendalam maka problem masyarakat itu selesai.
Kegiatan kemahasiswaan kebanyakan hanya menampung kelompok yang
organisator. Dulu perna saya dan kawan-kawan melakukan kegiatan
penelitian tata niaga Cengkeh. Orang yang kita undang ialah tidak ada
yang aktivis sama sekali melainkan orang-orang
profesionalis-individualis, setelah mengikuti proses ini mereka lalu
menjadi aktif.
Hal nomor satu yang perlu diperhatikan ialah jangan melabeli mereka,
seakan-akan mereka lebih rendah, jangan katakana mereka skeptis-apatis,
Anda hanya akan mengisolasi diri sendiri, gerakan mahasiswa perlu
mengajak orang luar untuk terlibat. Jadi, bagaimana menghadapi situasi
ini? Situasi ini merupakan situasi yang terus dihadapi di jaman apapun
juga. Hal penting yang harus dilakukan adalah buat gerakan kegiatan
kemahasiswan menjadi kegiatan yang dirasa menarik untuk semua dan ini
akan sedikit demi sedikit bisa merangsang orang terlibat.
You are a leader if and only if you have followers.
Anda pemimpin hanya dan jika hanya Anda punya pengikut. Nah, ketika
ada sebagian orang tidak mengikuti Anda maka jangan terburu-buru bilang
yang tidak mau ikut itu jelek, dsb. Jadi, misalnya ketua BEM buat
kegiatan yang kira-kira menarik buat mereka yang disebut apatis itu,
cari dong, pastinya mereka juga punya minat, memangnya hanya duduk diam
kuliah?, pastinya mereka juga ingin melakukan sesuatu, bukan?
Menurut Mas Anies Seperti apa sih karakter pergerakan mahasiswa itu?
Pergerakan mahasiswa mempunyai karakter moral yang jelas, hitam putih;
benar-benar, salah-salah tidak ada area abu-abu dan mahasiswa memang
harus begitu. Mahasiswa jangan takut, menurut saya A nggak ada masalah,
Anda tidak mempunyai kepentingan apapun kalau benar Anda katakana benar
kalau salah Anda katakana salah. Kedua, gerakan mahasiswa memiliki
karakter intelektual, ini yang membedakan dengan gerakan-gerakan pemuda
yang lain. Karenanya Anda harus berbicara dengan moral dan dengan ilmu,
caranya pakailah data. Anda kalau marah yah harus pakai data tidak
harus melakukan penelitian tapi yang penting ada punya data. Kalau
misalkan Anda memprotes pemerintah menaikan BBM Anda harus bisa bilang
kenapa mau protes, secara data Anda harus bilang ini menyebabkan
kemiskinan bukan semata-mata ini sebuah keputusan yang saya mau
tentang!.Yang ketiga yaitu karakter keoposisian. Memang gerakan
mahasiswa kakternya karakter oposisi.
Bagi anak-anak aktivis gerakan mahasiswa, bisa berhasil mengorganisir
500 orang untuk berkumpul, berfikir dan bergerak itu prestasi, tapi,
nanti usia Anda 40 tahun, Anda harus bisa mnghidupi 500 orang. Kalau
Anda di usia 40 tahun hanya baru bisa mengorganisir 500 orang Anda
mengalami stagnasi total. Ada peran dijamannya, di usia Anda itulah
peran Anda, setelah ini peran Anda harus berbeda, saat itu Anda harus
bisa bukan hanya menggerakan orang untuk protes tapi juga Anda harus
bisa membebaskan orang agar bisa bebas sejahtera.
Banyak yang bilang mahasiswa di jaman Orde Baru atau
sebelumnya pernah memegang peranan penting di negeri ini, sebagai
fungsi pengawasan katanya, mengawasi pemerintah. Kalau kita lihat
sekarang, sepertinya ketajaman mahasiswa berkurang, aksinyatanya itu
kurang. Menurut Mas Anies mana yang lebih baik mahasiswa dulu atau
sekarang?.
Kalau saya melihat, tiap jaman, peran dan fungsinya berbeda karena
tantangannya lain, hari ini memang mahasiswa itu tidak menjadi
Chanel
artikulasi untuk melawan pemerintah karena sudah ada partai-partai,
sudah ada kebebasan. Kalau dijaman orde baru, siapa coba yang mau
melawan? Jadi ketika mahasiswa melawan pemerintah, menentang,
mempromosikan demokrasi karena yang lain macet. Ketika yang lainnya
lancar maka peran mahasiswa jadi berbeda, kan? Saya melihat peran
gerakan mahasiswa itu ada dua; Peran kekinian dan peran masa depan. Yang
ada bicarakan tadi adalah peran kekinian, peran kekinian itu apa?
Kehadiran mahasiswa didalam konteks kehidupan berpolitik bernegara,
Anda hadir disitu ikut mewarnai .Peran yang kedua adalah peran masa
depan, Anda menjadi
supplier pemimpin muda untuk Indonesia
kedepan. Nah, kedua peran ini harus berjalan, yang peran kekinian itu
bisa naik turun tergantung jamannya tapi peran
supplier terus
berjalan karena Anda adalah institusi-institusi supplier stock pemimpin
masa depan, karenanya dalam masa ini bangun itu kepemimpinan, kalau
tidak dibangun dari sekarang kita kekurangan stok nanti.
Terus Mas Anies, Kan sekarang itu berkembang partai-partai
masuk ke kampus-kampus untuk rekruitmen. Menurut Mas Anies itu terlalu
dini atau memang untuk mempersiapkan pemimpin muda?
Pertanyaan Anda ini ada dua saya kira, yang pertama adalah ada
bagaimana tentang partai yang masuk ke kampus dan yang kedua adalah
tentang persiapan pemimpin muda dikampus. Untuk menjawab yang pertama,
soal paratai masuk kampus, bebaskan kampus dari politik partisan,
kenapa? Saya katakana tadi mahasiswa itu moral hitam putih, kalau
partisan tidak, jika Anda
underbow partai A Maka Anda akan
berhitung 2-3 kali sebelum mengatakan setuju atau tidak, Anda akan cek
apa kata partai saya. Sementara kalau Anda tidak partisan maka Anda
akan nilai saja bener atau salah sesuatu itu. Disitu uji ketajaman
moral bisa dilatih.Anda akan dapat pengalaman itu bila Anda sudah
partisan, bila Anda partisan dengan partai yang memerintah apapun yang
dikerjakan pemerintah Anda harus ikut bela, bila Anda partisan partai
oposisi apapun yang dikerjakan pemerintah Anda harus ikut kritik.
Disitulah letaknya kenapa menurut saya dalam usia pada fase mahasiswa
jangan dimasuki oleh politik partisan, politik mahasiswa politik moral
dan politik moral tidak mengenal partai, benar dan salah tidak punya
partai, kalau Anda benar, pikiran Anda benar ,yah Anda benar kalau Anda
salah yah Anda salah.
Untuk menjawab pertanyaan kedua, kepemimpinan itu Anda menjadi pemimpin
atau tidak bukan semata-mata Anda diberikan kesempatan atau tidak,
tapi Anda membangun pengaruh atau tidak. Saya katakana bahwa
you are a leader only if you have follower, if you have no follower , you are not a leader. Jika apa yang Anda pikirkan, ungkapkan dan Anda cita-citakan memiliki
follower makan Anda adalah
leader.Nah,
sekarang kalau kita belum melihat pemimpin muda ,saya tanya pemimpin
muda yang diikuti anak muda ada tidak? Mereka yang diikuti anak muda
bukan mereka yang muda yang memiliki posisi.
Pemimpin muda adalah pemimpin yang diikuti sebayannya. Anda pemimpin
mahasiswa maka pertanyaannya Anda diakui tidak oleh sebaya Anda? Jika
iya,
yes, you are a leader. Anda mengatakan saya pemimpin muda apakah saya diakui oleh sebaya saya atau lebih muda dari saya, jika iya, saya seorang
leader.Jadi bukan Anda punya posisi apa?
What’s u make a leader is not position u got but your influence.
Apa Mas Anies punya kiat-kiat untuk membangun leadership yang kuat dimasa kuliah sekarang ini?
Tentu Anda bisa ikut training- training karena itu bisa membantu
menstrukturkan apa yang harus dipelajari dalam leadership. Yang kedua
ambil pengalaman untuk memimpin karena memimpin itu bukan pekerjaan yang
secara teoritis bisa dengan mudah didefinisikan. Memimpin itu adalah
pekerjaan yang membutuhkan keterampilan pengalaman. Anda mau belajar
berenang? Saya ajak masuk diruang yang cagih, saya ajari Anda berenang
disitu, alat simulasi yang luar biasa, lalu saya ajak Anda ke kolam
renang, bisa Anda berenang? Bisa satu jam, habis Anda nyemplung Anda
baru berenang, setelah itu Anda tunggu kemampuan berenang Anda.
Saya selalu mengatakan belajarlah berorganisasi dan bermasyarakat di
kampus karena kampus itu karakternya seperti kolam renang. Karekter
kolam renang itu pakai bata, kedalamnnya terukur, tekanannya terukur,
ombaknya tidak ada. Anda mau belajar berenang di Samudra Pasifik?
Kedalamanya tidak terukur, suhunya luar biasa dingin, ombaknya besar. T
hat’s leadership challenge for the future, itu lah tantangan bagi masa depan Anda. Kebanyakan orang baru belajar berenang saat mereka sudah sampai samudra pasifik, bisa
survive
tapi bisa juga tenggelam. Kalau Anda belajar kepemimpinan di saat
mahasiswa, Anda masih belajar di lingkungan yang masih terukur, kadar
beban kepemimpinan Anda itu terukur, seperti Anda belajar berenang
dikolam renang. Karenanya kalau mau belajar kepemimpinan lakukan
sekarang, jangan nanti saat sudah selesai kuliah. Karena disana
tantangannya sangat besar sekali, mendadak Anda baru belajar
kepemimpinan saat tantangaannya sangat besar sekali, kalau Anda gagal
maka Anda akan tenggelam.
Kalau melihat tuntutan jaman saat ini, menurut Mas Anies, mahasiswa seperti apa yang dibutuhkan / diharapkan?
Mahasiswa yang mengembangkan kompetensi dirinya dengan kompetensi skala
global. Anda yang sedang kuliah sekarang, kembangkan komptensi Anda
sehingga Anda bisa menjadi manusia warga dunia. Anda lulusan Fakultas
Ekonomi UGM tapi Anda tidak harus bekerja di Jogja, Jakarta, Palembang
dan Serang. Tapi Anda harus bisa bekerja di London, New York, Tokyo,
Singapore, dan Frankfurt. Anda bisa kesana jika Anda bisa bermain
dengan kompetensi skala global. Anda, tugas mahasiswa Indonesia hari
ini adalah memiliki kompetensi sehingga Anda bisa berlaga dilevel
global, karena masa depan kita berada dilevel global.
Yang kedua mahasiswa Indonesia harus memiliki kepemimpinan yang kuat
dan akar di rakyat Indonesia yang solid, Anda harus paham tentang
Indonesia, jadi harapan saya bagi mahasiswa Indonesia sekarang memiliki
kompetensi global dan pemahaman kecintaan terhadap Indonesia yang
kuat.
You can be, Anda bisa menjadi warga global tapi tetap Anda tetap orang Indonesia.
Mungkin ada Harapan yang Mas Anies lebih tekankan ke mahasiswa Indonesia?
Pesan saya, proyeksikan diri Anda ke masa depan, dan lihat hari-hari
kedepan . Anda pernah buat CV? Saya minta mahasiswa menulis CV tahunnya
2031.Saya minta Anda proyeksi Anda dimasa depan 20 tahun lagi, Anda
tulis CV seakan-akan sekarang adalah tahun 2031. Anda tulis dimana
alamat Anda?, dari situ Anda bekerja dimana?, keluarga Anda seperti
apa?, keluarga yang dibangun seperti apa?. Itu adalah proyeksi mimpi,
kebanyakan kita menulis CV sebagai koleksi atas masa lalu, saya ingin
Anda menulis CV sebagai
blueprint masa depan. Saya selalu
melihatnya kedepan , kedepan, dan kedepan terus, karena menurut sudut
pandang saya, muda atau tua tidak ditentukan usia tapi pandangan. Jika
Anda menengok masa lalu terus maka Anda adalah orang tua, berapapun
usia Anda, jika Anda menengok kedepan terus maka Anda adalah muda, maka
yang menentukan muda atau tua adalah pandangan kita bukan angka di
KTP.
Ada nasihat terakhir dari Mas Anies Baswedan sebelum kami pergi pulang,
“Your High GPA only give you an interview but after that
your communication skill, Leadership, and systematically thinking
determine your success”
****************************************************************************************
ditulis Oleh Fadli Ariesta dan Rachmat Darma Putera
****************************************************************************************